Pengaruh Risiko Sistematis Terhadap Return Ekspektasian Portofolio Saham

Sehingga bila sebuah portfolio mampu memberikan return diatas anticipated returnnya maka selisihnya dikenal juga dengan istilah Jensen’s Alpha yang semakin tinggi semakin baik. Security Market Line merupakan garis pasar sekuritas yang menunjukkan bahwa threat and return berhubungan positif linear. Semakin kecil risiko sistematis (β), maka anticipated return portofolio atau sekuritas tersebut akan semakin kecil. Sementara itu, SML sebelah kanan titik M menunjukkan bahwa semakin besar β, maka anticipated return portofolio atau sekuritas tersebut akan semakin besar. Diversifikasi Berlebihan – Investor saham sering kali memasukkan terlalu banyak saham ke dalam portofolionya.

Perusahaan reksadana mengumpulkan investasi dari investor yang tidak memiliki waktu atau pengetahuan untuk melakukan riset di pasar dan takut mengambil risiko berinvestasi. Reksa dana mengumpulkan investasi dari berbagai investor dan menginvestasikan jumlah yang sama dengan riset pasar yang tepat untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Investasi yang dilakukan oleh reksa dana terdiversifikasi dengan baik untuk mengimbangi potensi kerugian. Misalnya, si investor memilih investasi saham, dan dia menyebarnya tidak hanya pada satu perusahaan saja melainkan lebih. Hal ini bertujuan untuk memperkecil risiko kerugian pada return nanti. Atau bisa dibilang, jika salah satu perusahaan bangkrut, maka posisi investor masih relatif aman dengan adanya saham pada perusahaan lainnya.

Karena uang tunai umumnya digunakan sebagai cadangan jangka pendek, banyak investor yang mengembangkan strategi alokasi aset untuk portofolio mereka yang terutama didasarkan pada penggunaan saham dan obligasi. Perlu juga diingat bahwa alokasi dan diversifikasi aset juga terkait erat dengan konsep; portofolio terdiversifikasi diciptakan melalui proses alokasi aset. Bunga yang tinggi cenderung mendorong masyarakat menabung dan meninggalkan investasi di pasar modal.

Jika rata rata portofolio yang lain bisa menghasilkan return portofolio hingga 15 %. Maka portofolio yang hanya menghasilkan return % 10 persen tersebut perlu dievaluasi lagi. Investasi mana yang harus ditinggalkan dan investasi yang mana yang harus dipertahankan dalam portofolio. Jika hasilnya ternyata tidak memuaskan, portofolio sebaiknya harus dirombak. Terlebih pada instrumen investasi yang “busuk” diantara investasi yang baik.

Investor mempunyai banyak peralatan untuk memilih bentuk investasi ketika menyususn portofolio. Bagi investor yang kekurangan waktu, uang, atau minat dalam berinvestasi, reksa dana menyediakan opsi yang cukup nyaman; ada banyak jenis reksa dana yang dapat memenuhi strategi berdasarkan selera, gaya, dan alokasi aset. Bagi mereka yang tertarik pada sekuritas particular person, ada saham dan obligasi yang dapat memenuhi kebutuhan. Terkadang investor menambahkan dengan berinvestasi pada uang logam langka, benda seni, actual estat dan investasi unik dalam portofolio mereka.

Bagaimana cara sistematis dalam saham

Bagi mereka yang memiliki modal pas-pasan, alangkah lebih baik untuk berinvestasi dengan metode price averaging untuk jangka panjang. nvestor menggunakan dananya untuk membeli saham dengan pertimbangan kinerja perusahaan di masa depan. Berita –berita tersebut dapat membuat harga saham naik drastic atau turun drastis dan menimbulkan reaksi pasar. Resiko tidak sistematis ini dapat didiversifikasi dengan portfolio dan investor dapat memindahkan investasinya sesuai dengan harapannya. Adapun data keuangan yang digunakan meliputi tiga laporan keuangan perusahaan, yaitu laporan keuangan laba rugi, laporan arus kas, dan neraca keuangan.